Bahasa IndonesiaEnglish (United Kingdom)

Home
Welcome to the Frontpage
Selalu Waspada Dibalik Manfaat Aseton PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 24 September 2014 08:13

Selalu Waspada Dibalik Manfaat Aseton

Oleh : Septi Hanna Dwisari

 

 

Tanpa kita sadari, sehari-hari kita hidup sangat dekat dengan zat-zat kimia berbahaya, misalkan pada penyemprot atau losion anti serangga, beberapa jenis kosmetik, bahan pelumas, bahan bakar, cat, cairan pembersih, dan sebagainya. Produk berbahan kimia dalam kehidupan sehari-hari ini dapat membahayakan manusia jika dalam jumlah tertentu baik secara sengaja maupun tidak sengaja terhirup, tertelan, masuk dalam aliran darah, ataupun terpapar pada kulit manusia. Efek racun yang ditimbulkan oleh zat-zat kimia tersebut tergantung pada dosis, sifat zat, kondisi tubuh manusia yang terpapar, dan bentuk paparannya. Bahaya paparan produk zat-zat kimia ini dapat langsung terlihat mengganggu organ tubuh manusia yang kemudian dikenal dengan istilah keracunan. Namun, zat-zat kimia ini juga dapat terakumulasi dan menimbulkan gangguan tubuh dalam jangka panjang. Menurut data WHO, pada tahun 2004 diperkirakan 346.000 jiwa meninggal dan 7,4 juta orang mengalami kecacadan dikarenakan keracunan zat kimia yang tidak disengaja.

 

 

Salah satu produk berbahan kimia di kehidupan sehari-hari adalah aseton sebagai cairan penghilang cat kuku. Konsentrasi yang digunakan untuk cairan penghilang cat kuku pada umumnya memang tidak terlalu pekat. Namun, menurut data penelitian di Polandia, kandungan aseton dalam 12 produk cairan penghilang cat kuku berkisar 10-80%. Cara mudah dalam mengidentifikasi kepekatan konsentrasi aseton dalam cairan penghilang cat kuku adalah dari kecepatan produk tersebut untuk menghilangkan warna cat kuku. Semakin tinggi kadar asetonnya, maka semakin cepat produk tersebut menghilangkan warna cat kuku. Lalu bagaimana jika cairan penghilang cat kuku ini sampai tertelan? Menurut penelitian LD50 (lethal dose) senyawa aseton pada hewan yang kemudian dikonversikan ke manusia, cukup dengan menelan 2 sendok makan aseton murni sudah mampu membahayakan nyawa bagi anak-anak. Oleh karena aseton tergolong bahan kimia yang berbahaya, maka kita harus lebih waspada dalam penggunaannya sehari-hari.

 

 

Aseton (C3H6O) merupakan senyawa organik golongan keton. Aseton juga dikenal dengan nama propanon atau dimethyl formaldehyde atau dimethyl ketone. Senyawa ini dapat larut dalam air dan juga tidak berwarna, tetapi memiliki aroma yang khas dan kuat sehingga memudahkan kita untuk mengidentifikasinya. Cairan ini juga mudah menguap dan terbakar. Aseton pada dasarnya dapat ditemukan di alam seperti pada tanaman, pepohonan, tanah, dan gas gunung berapi. Tubuh manusia pun juga dapat menghasilkan aseton dalam peristiwa pemecahan lemak, tetapi dalam kadar yang sangat rendah. Di kehidupan sehari-hari, masyarakat akan lebih sering menemukan aseton dalam kosmetik sebagai cairan penghilang dan pelarut cat kuku, serta pada kandungan beberapa jenis formula pencerah kulit dan pelurus rambut. Dalam dunia perindustrian, aseton juga digunakan sebagai bahan pembuatan plastik, serat, dan lem, serta pelarut pembuatan obat. Ternyata selama ini aseton juga dapat ditemukan pada asap sisa pembuangan mobil dan rokok.

 

 

Aseton dalam jumlah sedikit tidak akan berbahaya bagi manusia. Namun, penggunaan aseton yang kurang hati-hati ataupun terpapar aseton secara terus menerus tentu saja dapat beresiko untuk terjadinya keracunan. Kulit yang terpapar aseton akan mengalami ruam hingga rusak karena kekeringan. Sedangkan jika aseton sampai terhirup dalam jumlah yang cukup banyak, maka kita dapat mengalami iritasi hidung, tenggorokan, paru-paru, dan mata yang menyebabkan rasa terbakar, pedih, kering, dan kemerahan. Selain itu dapat juga diikuti rasa sakit kepala, kebingungan, denyut nadi yang semakin cepat, badan menjadi lemah, muntah, dan pingsan sampai dengan koma. Aseton yang tertelan dapat mengakibatkan iritasi membran mukosa dan dalam jumlah yang banyak akan berakibat pada hiperglikemia, kerusakan ginjal dan hati, hingga kematian.

 

 

Upaya pertolongan pertama dalam mengatasi keracunan yang diduga disebabkan oleh aseton dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut. Apabila aseton terhirup, maka sebaiknya kita segera berpindah ke udara terbuka. Namun, apabila terjadi kesulitan dalam bernapas, maka sebaiknya kita segera meminta pertolongan medis. Jika aseton mengenai mata, maka segera bilas mata dengan air setidaknya selama 15 menit dan dianjurkan untuk segera mendapatkan penanganan medis setelahnya. Begitu pula ketika aseton terpapar pada kulit, maka kita segera mencuci kulit yang terpapar dengan sabun dan air setidaknya selama 15 menit. Untuk kasus aseton yang tertelan, kita haruslah segera mendapat penanganan medis dan janganlah memaksakan penderita keracunan untuk muntah.

Meskipun resiko yang ditimbulkan oleh zat-zat kimia ini cukup berbahaya, bukan berarti kita menjadi takut untuk menggunakan produk-produk berbahan kimia. Bagaimanapun juga produk-produk berbahan kimia ini sangat membantu dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan produk dengan cara yang tepat sesuai dengan petunjuk pemakaian akan menjaga kita tetap aman dalam menikmati manfaat produk-produk berbahan kimia. Kita hendaknya juga memilih produk berbahan kimia yang tepat, yaitu produk-produk yang telah mendapat izin edar dari BPOM untuk obat, kosmetik, dan pangan maupun dari Kementerian Kesehatan untuk produk perbekalan kesehatan rumah tangga karena produk-produk ini telah terjamin kandungan keamanannya. Selama menggunakan produk berbahan kimia hendaknya kita juga terus berhati-hati sehingga tidak tercecer di berbagai tempat yang dapat secara tidak sengaja memungkinkan tubuh akan terpapar. Begitu pula pada penyimpan produk-produk berbahan kimia ini diharapkan jauh dari jangkauan anak-anak. Hal ini dikarenakan angka keracunan bahan kimia pada anak cukup tinggi. Dari penelitian National Capital Poison Center tahun 2012 dari 56,979 responden di Washington DC, Amerika, sebanyak 45% dari kasus keracunan dialami oleh anak-anak kurang dari 6 tahun, sedangkan untuk usia dewasa berkisar pada 40% dan sisanya adalah usia remaja. Hal ini karena anak-anak memiliki rasa keingintahuan yang tinggi sehingga tanpa pemantauan dari orang dewasa, produk-produk berbahan kimia yang ada di lingkungan sekitar akan sangat berbahaya.

 

 

Selama kita selalu waspada dalam menggunakan produk berbahan kimia yang tepat dengan cara yang tepat, maka kita akan terhindar dari bahaya keracunannya.

 

 

 

Sumber Pustaka:

Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2013). Aseton. (Online). (http://ik.pom.go.id/v2013/katalog/Aseton_upload.pdf, diakses 21 Januari 2014).

Delaware Health and Social Services. (2009). Acetone. (Online). (http://dhss.delaware.gov/dph/files/acetonefaq.pdf, diakses 21 Januari 2014)

Huzar, Wodnicka, dan Dzieciol. (2010). “Quality Inspection of Nail Polish Removers and Assessment of Health Hazard Associated With The Use Of The Removers”. Proceedings of ECOpole Vol.4, No. 2. 263-266.

The National Capital Poison Center. (2013). Poisonings: The Local Picture (Washington, DC). (Online). (http://www.poison.org/stats/, diakses 21 Januari 2014).

World Health Organization. (2014). “Poisoning Prevention and Management”. International Programme on Chemical Safety. (Online). (http://www.who.int/ipcs/poisons/en/, diakses 21 Januari 2014).


 
Apoteker di era JKN : tantangan atau kesempatan? PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 22 September 2014 10:41

Apoteker di era JKN: tantangan atau kesempatan?

Oleh : Vania Gones


Pada 1 Januari 2014, pemerintah Indonesia resmi menerapkan sistem jaminan kesehatan nasional, yang dikenal dengan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), yang berbeda dengan sistem jaminan kesehatan nasional sebelumnya. Sebelum JKN diterapkan, sistem jaminan kesehatan nasional sebenarnya telah diterapkan di Indonesia untuk berbagai kalangan, seperti pegawai negeri (melalui Asuransi Kesehatan/ASKES), masyarakat miskin (Jaminan Kesehatan Masyarakat/JAMKESMAS), tenaga kerja swasta (melalui Jaminan Sosial Tenaga Kerja/JAMSOSTEK). Bagi masyarakat yang tidak termasuk ke dalam kategori tersebut, dapat memiliki asuransi kesehatan pribadi yang dikelola oleh perusahaan swasta. Pada prinsipnya, penerapan JKN bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar kesehatan masyarakat yang layak yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah[1]. Perbedaan mendasar dari JKN dengan sistem sebelumnya adalah pengelolaan terpusat oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, bersifat wajib, dan menyeluruh secara nasional. Akan tetapi, dampak dari perubahan sistem kesehatan baru terhadap profesi apoteker di Indonesia, serta perubahan global dalam profesi apoteker dan kaitannya dengan sistem kesehatan nasional, dan bagaimana apoteker Indonesia dapat berkontribusi untuk mendukung JKN perlu ditelaah lebih lanjut.

 

 

Setelah penerapan JKN di Indonesia, banyak spekulasi mengenai dampak dari penerapan sistem baru tersebut kepada fungsi apoteker di Indonesia. Pada saat ini, masih terlalu dini untuk memastikan fungsi dan peran apoteker dalam JKN karena masih banyaknya ruang untuk pengembangan. Akan tetapi, dengan melihat peraturan dan struktur organisasi fasilitas kesehatan, maka dapat disimpulkan bahwa peran apoteker yang diakui terbatas hanya pada pengelolaan dan penyediaan obat dan alat kesehatan [2, 3]. Lebih jauh lagi, untuk dapat bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, apotek tidak dapat berdiri sendiri sebagai sebuah fasilitas kesehatan, tetapi harus berafiliasi dengan klinik. Sistem tersebut semakin mengurangi kesempatan apoteker untuk bersuara, bernegosiasi, dan mengaktualisasikan diri sebagai seorang tenaga kesehatan.Lain halnya dengan di Australia, di mana pemerintah hanya menjamin pembelian obat yang dibeli di apotek, dan hanya di beberapa rumah sakit pemerintah. Dalam sistem yang demikian, para apoteker melalui PharmacyGuild of Australia, dapat bernegosiasi dengan pemerintah.

 

 

Secara umum, terjadi perubahan paradigma di dalam profesi apoteker. Sejak 1990, apoteker mulai diharapkan untuk berorientasi pada kesejahteraan pasien, bukan lagi kepada obat[4]. Paradigma baru tersebut dikenal dengan asuhan kefarmasian atau “pharmaceuticalcare”. Di Amerika, sebelum pharmaceuticalcare dikenalkan, apoteker memiliki spesialisasi khusus dan sangat umum bahwa satu pasien dilayani oleh banyak apoteker dengan spesialisasi yang berbeda-beda. Pada pelaksanaannya, variasi keahlian tersebut membuat apoteker kehilangan identitas profesionalnya. Dalam pharmaceuticalcare, apoteker tidak lagi melayani pasien sesuai dengan spesialisasinya, tetapi seorang apoteker diharapkan untuk dapat menjalankan fungsi pengelolaan dan sekaligus menjalankan fungsi klinis kepada pasien. Perlu diperhatikan juga bahwa di negara yang telah memiliki apoteker yang menjalankan fungsi klinis, mereka telah memiliki kapasitas, sistem pendidikan, dan standar praktik yang lebih dari sekedar mengelola obat. Di Indonesia, saat ini banyak apoteker mulai menjalankan peran klinisnya, bervariasi antara terspesialisasi dan tidak terspesialisasi. Akan tetapi, lompatan besar peran apoteker di Indonesia yang awalnya hanya berfokus mengelola obat menjadiberperan dalam fungsi klinis sekaligus pengelolaan obat, dapat menimbulkan resistensi dan penolakan, baik dari  dalam profesi apoteker itu sendiri, maupun dari lingkungan.

 

 

Melalui penerapan JKN di Indonesia, sebenarnya apoteker memiliki kesempatan yang besar untuk berkontribusi dalam keberlangsungan sistem tersebut, khususnya dari kendali biaya dan kendali mutu. Apa yang dapat dilakukan oleh apoteker di Indonesia untuk berkontribusi di dalam JKN sesuai dengan perkembangan profesi secara global? Berikut adalah beberapa kegiatan yang tercatat dan dilaporkan melalui jurnal ilmiah berskala internasional, yang dapat membangun sistem farmasi yang kuat, antara lain:

  1. Mengoptimalkan sistem manajemen obat dengan membangun sistem dan strategi yang terencana dengan baik, agar tercapai kendali biaya dan kendali mutu di dalam institusi
  2. Mengoptimalkan sumber daya yang tersedia, baik dari infrastruktur, dana, dan sumber daya manusia (khususnya asisten apoteker)
  3. Mengoptimalkan teknologi (jika dimungkinkan) untuk membantu kegiatan operasional sehari-hari
  4. Mendokumentasikan seluruh kegiatan, khususnya hasil, sebagai bahan evaluasi dan pembelajaran untuk pengembangan
  5. Mengembangkan diri  terus-menerus dengan mengikuti pelatihan, seminar, atau dengan banyak membaca informasi tentang perkembangan lokal, nasional, maupun internasional

 

 

Referensi:

1. RI, K.K. Jaminan Kesehatan Nasional untuk Indonesia yang Lebih Sehat.  [cited 2014 19 September]; Available from: http://www.jkn.kemkes.go.id/detailfaq.php?id=1.

2. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan S.K. RI, Editor. 2013, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia: Jakarta.

3. RI, K.K., Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 455/MENKES/SK/XI/2013 tentang Asosiasi Fasilitas Kesehatan. 2013, Kementerian Kesehatan RI: Jakarta.

4. Hepler, C.D. and L.M. Strand, Opportunities and responsibilities in pharmaceutical care. Am J Hosp Pharm, 1990. 47(3): p. 533-543.

 

*Vania Gones adalah Wakil Ketua IndonesianYoungPharmacists Group. Vania adalah lulusan profesi apoteker dari Universitas Indonesia pada tahun 2010, dan pernah bekerja sebagai Kepala Instalasi Rumah Sakit Atma Jaya. Pada saat ini, Vania sedang melanjutkan studi Master of Philosophy di Faculty of Pharmacy,University of Sydney. Vania melakukan riset mengenai tantangan, kesempatan dan cara mengoptimalisasi manajemen farmasi rumah sakit untuk mendukung keberlangsungan sistem jaminan kesehatan nasional di Australia dan Indonesia.

Last Updated on Tuesday, 23 September 2014 05:08
 
KEGIATAN PEMBINAAN KESEHATAN DI PANTI ASUHAN PUTRA UTAMA 2 SUNTER PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 04 March 2014 07:36

Profesi farmasi merupakan profesi yang dinamis, berorientasi pada pasien dan memiliki komitmen untuk memenuhi kebutuhan pengobatan pasien. Oleh karena itu seorang farmasis dituntut untuk dapat berperan sebagai profesional, enterpreuneur, birokrat, pendidik, dan sebagainya. IYPG sebagai suatu wadah perkumpulan dari Apoteker muda dibawah bimbingan IAI, ingin berkontribusi aktif dalam memajukan peranan Apoteker sebagai tenaga kesehatan yang dirasakan fungsinya dimasyarakat sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya. Salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan adalah dengan pendampingan pelayanan dan edukasi kesehatan sejak dini di berbagai kalangan.


Last Updated on Tuesday, 04 March 2014 09:05
 
Sesi Indonesian Young Pharmacicts Group (IYPG) pada Kongres Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) 2014, 22 Februari 2014 PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 12 March 2014 07:48

Kongres Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) telah terlaksana pada 21 – 23 Februari 2014 di Hotel Grand Sahid, Jakarta. Even itu digunakan sebagai ajang laporan pertanggungjawaban pengurus IAI masa bakti 2009 – 2013 dan pemilihan Ketua IAI yang baru periode 2014-2018, serta kegiatan seminar ilmiah. Bersamaan dengan itu, Indonesian Young Pharmacists Group (IYPG) berkesempatan melaksanankan kegiatan country sharing dan diskusi panel melibatkan perwakilan anggota Asian Young Pharmacists  Group (AYPG). Tema besar yang diangkat adalah sistem jaminan kesehatan. Hal ini sejalan dengan sistem jaminan kesehatan nasional di Indonesia yang mulai diimplementasikan per 1 Januari 2014.

Last Updated on Wednesday, 12 March 2014 08:06
 
KREATIFNYA ANAK- ANAK PANTI ASUHAN PUTRA UTAMA 2 SUNTER PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 04 March 2014 08:20

Pada hari Minggu, 15 Desember 2013 kami dari IYPG mengadakan acara pembinaan  kesehatan  di Panti Asuhan Putra Utama 2 Sunter, dimana salah satu kegiatan yang dilakukan adalah pemberian materi mengenai kebersihan pribadi dan Lingkungan. Untuk memudahkan anak- anak mengingat materi tersebut, kami membuat lomba yel- yel cuci tangan yang diikuti oleh seluruh anak- anak yang dibagi kedalam beberapa kelompok kecil. Yel- yel cuci tangan ini merupakan hasil kreatifitas setiap kelompok, yang akan menampilkan urutan cuci tangan yang baik dan benar sesuai panduan dari WHO (World Health Organization). Lomba yel- yel ini diharapkan akan memudahkan anak- anak untuk mengingat dan mempraktekan cara cuci tangan dengan baik dan benar.

Last Updated on Wednesday, 05 March 2014 02:50
 
« StartPrev12NextEnd »

Page 1 of 2

Poling IYPG

Kapan IYPG didirikan?
 

Login Form



Follow us on:

  • Facebook: profile.php?id=100003479693958
  • Twitter: IndonesianYPG

October 2014
MTWTFSS
12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031
feed-image Feed Entries

Halaman Terkait

Latest News

Favorit


Powered by Joomla!. Designed by: free Joomla template top actors list Valid XHTML and CSS.